Saturday, 19 January 2013

Asa Membangun Bara (Event Journal)

Panjatkan Do’a dan selalu berharap akan lindungan-Nya, jejak demi jejak, hentakan yang memberatkan hati tak lagi bersemayam dalam Qalbu serta fikiran, demi terciptanya suatu tatanan dengan apa yang sudah seharusnya. Teruji dalam gerak, tersisihkan senyum kala berat cobaan hendak menghampiri, seolah memberatkan Qalbu tapi dengan Izin-Nya apapun bisa dikehendaki-Nya. Lantunan Lafaz-Nya akan selalu menemani tiap sisi perjalanan.

Bunda merelakan darah letih, menghimpun satu asa, satu harapan, satu pencapaian yang harusnya lurus, sejajar. Perihnya jua dapat dirasakan sebagai bahan resapan Qalbu, mengingat Indonesia ku tak seperti ini. Mengapa ?? Realita yang jauh akan angan yang tinggi, jauh dari apa yang terlintas dari benak mereka, substansi yang berbeda sungguh berbeda.

Langkah kaki yang terhanyut dalam derap lelah, derap suatu keinginan panjang, derap adanya suatu bimbingan, terpupus dengan semangat bara. Ini mungkin tabir berkepanjangan yang mungkin tak tersentuh, Sang Surya pun ikut menyerukan ke lubuk hati agar tak menangis, tak meminta kehidupan lebih, sebab masih banyak seruan yang hendak dikerjakan.

Yang tersirat memang tersurat, terlihat indah Cipta-Nya, terlalu manis untuk jamuan sang pengembara, suara air pun riuh ketika menjamahkan kaki pada tanah subur. Seutas senyum setiba pada tempat yang tak mungkin terbayangkan oleh pelupuk mata dari kejauhan. Terbesit dalam fikiran “Indonesia ku kaya, Indonesia ku subur, Indonesia ku makmur”. Pujian atas Ciptaan-Nya terpanjatkan atas apa yang didepan mata, derap fasih Qalbu bergetar seraya paradise dunia yang terlihat, memimpikan atas satu asa yang takkan mungkin pudar. Semua perih, lelah seraya hilang terobati, mengindahkan apa yang dipelupuk mata, setapak kaki terhenti, bara semangat makin berkibar.

Jalan bertumpu asa memang berat, seolah memangku sebuah bangunan kokoh, nafas terengah, deras keringat mengalir sempurna, tertanam suatu harapan hingga tercipta sebuah pencapaian. Keyakinan pada diri ini yang menjadikan kuat, mampu mengatasi tiap keadaan atas ijin-Nya.

Langkah terhanyut henti, tak lelah jalan setapak penuh duri, nan tajam. Ini arti sebuah perjuangan nan mulia, sungguh bekal batin yang tak ternilai. Meniti sebuah harap, jelas ini menjadi angan dalam bergerak selaras pada angin didahan. Ya, inilah desa Sukaraharja, kecamatan Kadupandak, Cianjur Selatan.

Sedikit meneguk air dari embun, menghirup nafas hasil penyinaran mentari. Pagi itu terasa amat berbeda, ya pagi ini sebuah pendidikan non formal akan berlangsung teruntuk para penerus generasi bangsa, yang kelak menjadi tumpuan hidupnya negara, mulai dari tatanan masyarakat yang berbudi luhur, lahir dari desa yang teramat ujung. Sebuah harap dalam benak, mengintegrasikan ucap maupun gerak yang nantinya menjadi bekal untuk anak, melalui pembentukan character berharap ia tumbuh peka terhadap lingkungan terutama peka pada perkembangan desanya yang sangat tak tersentuh oleh petingginya. Imbasnya mungkin sederhana, kecil tapi dengan sebuah harapan mampu melangkah dengan gerak ingin merubah, dengan menoleh, dengan memandang arti sebuah keadilan.

Pemberdayaan sumber daya manusia yang demikian menjadi tanggunan bagi mereka yang hatiya tergerak untuk merubah nasib karakter bangsa yang di idam-idamkan. Indikasi baru dalam tiap perubahan, meyakinkan sedikit asa dibalik tatanan desa. Kurang harmonisnya suatu aspirasi masyarakat akan infrastruktur wilayah pada petinggi ini yang menjadi amanah baru bagi generasi saat ini. Mereka berpeluh, mereka tersesak nafasnya, terenggut haknya, tak dinamisnya kehidupan sebagai salah satu condong kemajuan.

Terelakakkannya amanah pemimpin yang hanya ‘peduli’ oleh isi perut, memberatkan suatu kepentingan, tak tersentuh nuraniya, jabatan hanyalah hiasan dunia, memberikan farik pada tiap sisi. Goresan luka masyarakatnya seolah termunafikan oleh janji kosong, tak peluh pada tujuan utamanya, lagi dan lagi, tahun demi tahun, segala cara dicoba untuk melanggengkan aspirasinya, namun tak jua realisasi yang didapat, hening, kosong sama sekali tak terisi. Kemanakah gendang telinga mereka ?? Kepekaan itu takkan lagi menyapa hatinya. Yang ada hanya mimpi kosong, kepada siapa lagi mereka mencurahkan isi angannya.

Hidup keterasingan dalam haluan lingkungannya sendiri, sesak memang, namun hanya dapat dirasa oleh sebagian yang peduli, namun dalih upaya yang terlaksana terlalu minim. Takkan menyerah bila hanya sia-sia, itu hak yang seharusnya menjadi hal yang layak untuk diberikan, namun titik buntu hanya menjadi segelumit kisah yang tak kunjung henti.

Jalan didepan begitu terjal, kerikilnya begitu tajam, harapan begitu panjang, tumpuan pada regenerasi yang menjadi impian dalam dekap nurani mereka. Moral dan etika yang berakhlak ditumbuhkan sebagai bekal jalan hidup menggapai cita, kelak tumbuh menjadi manusia yang berbudi, berakal sehat menjunjung tinggi ke-Esaan-Nya. Senyum mereka seolah menjadi teman menapaki jejak kehidupan.